Citra dan Karakter Guru

Guru bukanlah sekadar pekerjaan, tetapi sebuah profesi. Namun pada kenyataannya tak jarang kita menemukan guru yang tidak sesuai dengan profesinya sebagai guru. Sering di media massa diberitakan sikap guru yang tidak wajar terhadap muridnya bahkan cenderung sadis. Memang dilema seorang guru yang di sisi lain harus tetap menunjukkan sikap profesional, tegas dan berwibawa, namun juga diharapkan sikap guru lembut, telaten dan sabar.
Banyak sekali artikel-artikel di media masa dan media online membahas tentang pembangunan karakter seorang guru yang dimaksudkan untuk menjalin hubungan dengan siswa. Kelak ketika karakter yang baik itu terbangun maka anak-anak bisa menjadi cinta dengan guru tersebut. Tapi sangat sedikit sekali artikel yang membahas tentang bagaimana membina karakter guru untuk hubungannya dengan sesama guru. Entah itu antar guru senior ataupun guru junior. Hakikat seorang guru bagi saya pribadi adalah bagaimana mengamalkan sebuah ilmu yang diperoleh dengan mengajar/ menyebarkan ilmu dengan harapan mendapatkan “berkah” atas apa yang dilakukan. Jika prinsip ini benar-benar dipakai saya rasa untuk profesi apapun pastinya ilmu akan lebih bermanfaat. Tetapi di lapangan rupanya masih banyak sekali hal yang masih dirasa kurang tolerir khususnya dalam membangun hubungan antar sesama guru. Beberapa waktu lalu ada seorang teman yang menjadi seorang guru di sebuah sekolah yang mengeluh dikarenakan adanya penerimaan yang kurang baik. Ada juga yang kasak-kusuk dikarenakan dia bukan dari perguruan tinggi negeri. Ada juga slentingan lain yang kurang bagus sampai di telinga. Berbeda pula katanya dengan penerimaan di sebuah sekolah yang berbasis madrasah dengan mengedepankan prinsip agamis dan “saling berbagi ilmu”, dari sini bisa dilihat begitu jauhnya karakter antara guru. Tapi semua itu hanya sebatas satu sudut pandang saja. Semua berbalik pada individual masing-masing, sebagai pendidik yang baik citra seorang guru harusnya bisa dinilai baik pula. Jika kita mendapat ilmu maka berbagilah, karena dengan berbagi, ilmu itu akan membawa manfaat.
Hendaknya kita sadar bahwa menjaga silaturahmi itu ibarat kelopak, jika angin terlalu kencang berhembus maka kelopak bunga tersebut akan berguguran sebelum masanya. Tapi jika kelopak tersebut dijaga. Sampai layu pun kelopak itu akan tetap pada tangkainya. Krakter itu bukan sebuah pilihan, tapi kita bisa membangun dan memperbaikinya.

^_^ muhasabah yuk para pendidik….

Ayu Septiana

http://astianard.blogspot.co.id/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s