Kartini

Pemikiran ibu Kartini sungguh inspiratif. Di akhir tahun 1.800an Kartini muda yang masih berusia 12th merasa sedih dg kehidupan wanita jawa, dimadu, dicampakkan, dijodohkan dg org tak dikenal, tidak punya pendidikan, tdk punya keterampilan, hidupnya hanya bergantung dg laki2. Bagaimana seorg perempuan bisa membimbing putra-putrinya jika dia harus bodoh.
Dia merubah budaya dimana dia meminta syarat saat menikah bahwa dia diperkenankan membuka sekolah utk perempuan dan kaum miskin,

Dia meminta Yu Ngasirah (ibu kandungnya) tdk lagi dipanggil Yu seperti pembantu dan di panggil *Mas Ajeng* (sebutan lain ibu) walaupun dia seorg selir. Dan menempatkan ibunya di rumah induk.

Yg menarik lagi Kartini yg menjadi Istri ke3 namun berperan sebaga garwo padmi, justru tidak mau suaminya menceraikan istri-istrinya….

Soal Islam, awalnya Kartini kurang respek, krn dia selalu bertemu dg guru agama yg tidak memperbolehkan Al Qur’an utk diterjemahkan.

Hingga suatu saat dia menwmukan Kyai modern yang mengartikan Al Qur’an…hingga ia menulis surat pada teman2nya di Belanda bahwa Islam itu agama yang indah.

Kartini juga menemukan perbedaan perempuan Jawa dan Belanda…

Di Belanda ada Kebebasan

Di Jawa ada *Bakti*
Selamat hari Kartini

*Hestiday*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s